Saturday, April 1, 2023

CUACA DAN IKLIM TROPIS: Buku Meteorologi Tropis

CUACA DAN IKLIM TROPIS: Buku Meteorologi Tropis:  Saudara-saudara semuanya, berikut ini adalah buku yang saya tujukan untuk kegiatan amal khususnya bagi saudara-saudara kita yang yatim. Tidak ada batasan minimal terkait dengan Gerakan Sedekah Ilmu ini. Semoga upaya yang kami rintis ini bisa membawa dampak positif bagi perkembangan sainteks dan kehidupan kebangsaan di Indonesia, khususnya. 

Wednesday, March 17, 2021

Kilat, guruh dan petir

 Sering orang salah mengira bahwa peristiwa yang di langit itu tergolong kilat, guruh atau guntur, ataukah petir? Semoga kalian bisa membedakannya dengan baik. Benar! Kilat menyangkut cahaya; guruh atau guntur menyangkut suara; dan petir menyangkut keduanya yakni cahaya dan suaranya. Peristiwa kelistrikan di atmosfer ini biasanya terjadi di dalam awan, antar awan dan antara awan dengan permukaan bumi. Di antara ketiga jenis ini, yang paling berbahaya adalah yang terjadi antara awan dengan permukaan bumi. Benda-benda runcing apalagi besi/baja yang menjulang dan  pepohonan serta gedung yang tinggi rentan terhadap sambaran petir. Oleh karena itu maka berbagai langkah yang bisa dilakukan terkait dengan petir dapat dilihat pada flier  https://www.weather.gov/safety/lightning . Awan-awan yang bisa berdampak pada pembentukan kilat, guruh dan petir adalah awan-awan jenis kumulus dan kumulonimbus. Awan kumulus yang kemudian berkembang menjadi awan kumulonimbus akan menyebabkan terjadi pemisahan muatan listrik di dalam awan dimana di bagian atas awan bermuatan positif, di bagian bawah/dasar awan bermuatan negatif dan ada area kecil di dasar awan yang bermuatan positif. Sementara itu di dekat permukaan bumi terdapat kumpulan muatan positif khususnya yang berupa benda-benda yang menonjol di permukaan. Akibatnya bisa terjadi loncatan muatan yang berasal dari awan (stepped leader) yang kemudian disambut oleh sambaran dari permukaan sehingga terjadi petir yang menggelegar. Gelegar petir ini akibat adanya pemanasan yang ribuan derajat Celcius (konon 3000 oC atau 5 kali suhu permukaan matahari) pada Udara yang dilalui sehingga Udara bisa mengembang dan berkontraksi secara tiba-tiba. Ini yang kemudian terlihat dan terdengar dari kejauhan. Waktu antara kilat dan gelegar suara guruh tersebut bisa digunakan untuk menentukan jarak kita dengan pusat petir tersebut. Bila dibagi dengan angka 3 maka akan menunjukkan jarak dalam satuan kilometer. 

Mengulas seperti yang telah disampaikan di atas, langkah yang sebaiknya dilakukan bila berada di dalam ruangan adalah tidak menyalakan alat-alat elektronik dan menjauhi jendela. Ini merupakan langkah umum yang sebaiknya lakukan mengingat jika petir menyambar maka ia dengan mudah menjalar melalui aliran listrik sehingga bisa membahayakan pengguna alat elektronik. Bisa juga akibatnya adalah alat elektronik tersebut rusak. Keluarga penulis pernah mengalami hal tersebut dimana gelegar petir yang dekat menyebabkan saudara terkapar pingsan, rumah saudara kebakaran, dan meledaknya colokan listrik pada saat petir terjadi. Berdasarkan pengalaman nyata itulah sebaiknya ketika hujan deras dan petir menyambar-nyambar maka semua peralatan elektronik dimatikan, menjauh dari peralatan listrik, dan menjauhi pula kaca jendela mengingat getaran dari petir bisa menyebabkan kaca pecah.

http://1.bp.blogspot.com/,,,,,,/s1600/petir.jpg

Bila saudara berada di luar ruangan, sebaiknya jangan berteduh di bawah pohon, apalagi berkerumun. Ini bisa sangat berbahaya karena banyak kejadian seseorang atau beberapa orang mati atau cacat atau pingsan karena terkena induksi petir yang menyambar tanaman/pohon tempat dia berteduh. Sebaiknya berteduh pada rumah yang berdinding. 

Di Indonesia belum pernah terjadi adanya pesawat yang tersambar petir meskipun potensi hal tersebut ada, bahkan di musim hujan akan jauh meningkat. Pesawat-pesawat Udara yang melalui suatu awan tertentu dimana ada kalanya sulit untuk menghindari awan dalam perjalanannya dari satu bandara ke bandara yang lain tidak bisa tidak tentu akan mengalami kemungkinan untuk tersambar petir khususnya saat melewati/mendekati awan-awan jenis cumulus dan cumulonimbus. Yang pernah penulis saksikan adalah saat pesawat Qantas Australia melewati awan tebal kumulonimbus dan saat itu lagi hujan deras dan petir menyambar-nyambar namun akhirnya pesawat tersebut selamat melintasi wilayah awan tersebut. Semoga saja kita semua tidak mengalami peristiwa-peristiwa yang mencekam yang terkait dengan cuaca ya. Aamiin.

Sunday, January 10, 2021

Kecelakaan Sriwijaya Air

 Kemarin kurang lebih jam 14.40 WIB telah jatuh pesawat Sriwijaya Air di laut Jawa dalam penerbangannya dari bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Banten ke bandara Soepadio Pontianak Kalimantan Barat. Pesawat tersebut mengangkut puluhan  orang termasuk pilot dan awak kabin dan sampai hari ini masih dicari keberadaannya karena diperkirakan semuanya meninggal tercebur di laut. Cuaca pada saat kejadian, menurut kabar memang sangat buruk, ada awan kumulonimbus yang menyebabkan hujan deras di Cengkareng. Pesawat yang jatuh tersebut tampaknya mengalami turbulen selama penerbangannya. Kita tunggu hasil penyelidikan KNKT untuk kepastiannya agar tidak timbul hoaks. 

Mari biasakan untuk melihat berita ramalan cuaca pada saat hari dan jam penerbangan sebagai antisipasi agar tidak celaka. Betapapun canggihnya pesawat terbang dan sebetapapun trampilnya pilot, cuaca merupakan hal yang tidak bisa dianggap remeh. Apalagi seorang pilot yang dibekali ilmu tentang cuaca (meteorologi) semestinya bisa mengantisipasi sejak awal, sebelum penerbangan dilakukan dan tidak hanya memenuhi jadwal terbang yang telah ditetapkan maskapai penerbangan. Satu orang nyawapun tidak akan sebanding dengan nilai harta berapapun. 

Semoga tidak timbul lagi kecelakaan baru di musim hujan ini dimana biasanya atmosfer sangat labil yang ditunjukkan oleh keberadaan awan-awan konvektif seperti kumulonimbus.



Thursday, June 11, 2020

Penerbangan selama pandemi Covid-19??

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung beberapa waktu ini. Seratus tiga belas negara terdampak covid, dengan demikian hampir seluruh negara di dunia ini terdapat orang yang positif terpapar virus ini. Banyak negara sudah melakukan lockdown dan sebagian dengan cara lain yang dirasa lebih efektif dalam memutus mata rantai penularannya. Indonesia memilih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan sejumlah alasan dimana selain bertujuan utama memutus mata rantai penyebaran covid namun juga menjaga agar kegiatan ekonomi masyarakat tetap tumbuh dan berkembang. Bagaimanapun tentu kesehatan merupakan hal yang sangat penting tetapi ekonomipun tidak kalah pentingnya. Bila seseorang sehat maka dia bisa mencari penghidupan yang layak. Tetapi jika ekonominya bagus sementara dia tidak sehat maka tidak ada kemanfaatannya karena dia tidak sempat menikmati hartanya tersebut. Oleh karena kesehatan lebih dinomorsatukan.
Jasa angkutan udara mulai menggeliat meskipun dalam jumlah yang masih sangat terbatas. Belum semua maskapai penerbangan mengoperasikan pesawatnya. Hal ini semata-mata juga untuk membatasi ruang gerak masyarakat mengingat masih rentannya penyebaran wabah covid. Sayangnya, upaya yang sebenarnya lebih ditujukan agar ekonomi lebih berjalan khususnya untuk kalangan dunia usaha ini masih disalahgunakan oleh sebagian orang untuk mudik ke kampung halaman. Surat bebas covid diperjualbelikan sehingga menjadi ladang pencaharian bagi pihak tertentu yang bukan tidak mungkin disalahgunakan. Hal ini memang menjadi ladang bisnis tersendiri. Bahkan dalam jangka waktu tertentu yang makin pendek surat keterangan bebas corona ini berlaku. Orang Indonesia memang begitu kreatif dalam melihat kesempatan dalan kesempitan 🙂.
Penerbangan diperkenankan tapi penumpangnya harus menjaga jarak tertentu, ternyata pelaksanaannya seperti dalam kondisi normal. Beberapa hari yang lalu, orang yang positif covid pun ternyata lolos menjadi penumpang. Maka gegerlah penumpang pesawat tersebut dan masuk dalam pemberitaan media.
Mengajak disiplin masyarakat untuk mentaati protokol kesehatan memang tidak mudah tetapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti akan menjadi kebiasaan bangsa Indonesia dengan kesadaran sendiri. Jadi saya yakin bahwa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia ini akan makin menyadari akan arti pentingnya kesehatan dan bersama sama menciptakan tata aturan dunia baru yang makin sehat. In sya allah. Amin.

Wednesday, December 25, 2019

Perjalanan akhir tahun ....

Tahun sudah hampir berganti. Sebagian masyarakat kita mengisinya dengan liburan setelah sekian lama dipenuhi dengan rutinitas pekerjaan. Kalau dilihat dari transaksi perjalanan liburan tahun ini yang 140 T dibanding tahun 2015 yang 70 T, maka ini merupakan lompatan yang besar, 100%. Tidak bisa tidak, hal ini disebabkan daya beli masyarakat yang meningkat dan kebutuhan hiburan demikian juga. Ini juga menunjukkan bahwa tingkat kemakmuran makin meningkat meskipun belum tentu disertai dengan indeks GINI yang makin menurun. Belum ada laporan akhir tahun tentang indeks ini untuk tahun 2019 ini. Indeks GINI yang makin menurun menunjukkan bahwa kesenjangan penghasilan masyarakat makin menurun dan itu merupakan petunjuk penting adanya pemerataan pembangunan. Semoga saja demikian.
Di sebagian besar wilayah Indonesia, bulan Desember dan Januari  merupakan musim hujan. Banyak terbentuk perawanan dan hujan deras yang mungkin disertai angin kencang. Perawanan-perawanan besar yang terjadi bisa berakibat pada turbulensi pada pesawat yang bisa sangat membahayakan para penumpangnya. Di darat dan perairan, meskipun saat ini baru sebagian kecil yang mengalami hujan deras dan angin kencang secara bersamaan, bukan tidak mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama peristiwa tersebut akan berulang kali terjadi, demikian pula dengan banjir dan tanah longsor. Daerah-daerah pariwisata tidak terhindar dari peristiwa tersebut. Mengingat bahwa para traveler banyak pula yang kurang memperhatikan cuaca dan musim karena kurang paham akan hal tersebut, maka mulai sekarang biasakanlah untuk membaca informasi cuaca, musim dan iklim (cusiklim). Banyak sumber bisa diperoleh tentang cusiklim ini. Tinggal googling saja. Selamat berlibur dan menikmati akhir pekan bersama keluarga. Selamat tahun baru 2020 untuk masa depan Indonesia yang lebih baik dan cerah. In sya allah. Aamiin.

Sunday, April 21, 2019

Penerbangan anda hari ini??

Apa kabar saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Bagaimana kabar penerbangan kalian hari ini?? Sudahkah memenuhi harapan kalian?? Bagi yang mempunyai penerbangan di arah Sumatera dan Papua serta sebagian Jawa berhati-hatilah karena pola perawanan yang cukup tebal bisa membawa dampak pada goncangan pada pesawat, Dengan menggunakan pesawat-pesawat besar guncangan ini mungkin tidak begitu terasakan namun bagi yang menggunakan pesawat kecil maka akan menemui kendala yang berarti. Oke selamat menikmati perjalanan, semoga perjalanan kita semua lancar sampai tujuan. Salam,

Tuesday, October 9, 2018

Seminar, workshop, pelatihan cuaca, musim dan iklim

Pemahaman tentang cuaca musim dan iklim sudah seharusnya diberikan sejak PAUD. Kesadaran ini belum membudaya di negeri kita padahal cuaca, musim dan iklim adalah peristiwa keseharian kita. Percepatan penyadaran masyarakat tentang hal ini bisa jadi akan menyelamatkan hidupnya. Bila berminat, jangan ragu-ragu untuk mengontak kami. Ditunggu responnya ya. Terimakasih.

Tuesday, October 3, 2017

Bagimu negeri, jiwa raga kami ...manfaatkan kesempatan langka ini.

Kesempatan ini terbuka sampai dengan bulan Desember 2017 mendatang. Bagi pihak dinas pendidikan ataupun sekolah yang berminat, dapat menghubungi contact person seperti terlihat pada poster di bawah ini.

Wednesday, September 20, 2017

Peluang kekeringan di Indonesia

Beberapa waktu terakhir ini media massa baik cetak maupun elektronik serta medsos banyak memberitakan tentang kekeringan yang melanda beberapa wilayah di tanah air dari ujung barat sampai ujung timur. Keluhan warga di beberapa kabupaten ditanggapi dengan sigap namun di beberapa kabupaten yang lain seolah-olah masyarakat dibiarkan sendiri untuk mengatasi kesulitan hidupnya tersebut. Sebenarnya terdapat 3 jenis kekeringan yakni kekeringan meteorologi, kekeringan hidrologi, dan kekeringan pertanian. Ketiga jenis kekeringan ini saling terkait yang berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Tujuan dari tulisan ini adalah mengulas peluang kejadian kekeringan di tanah air sampai beberapa bulan ke depan sekaligus memberikan alternatif solusi mengatasi hal tersebut.
Macam-macam kekeringan
            Seperti telah disebut di atas terdapat tiga jenis kekeringan. Kekeringan meteorologi adalah kekeringan yang terjadi karena sedikitnya hujan yang sampai ke permukaan bumi karena awan-awan yang terbentuk tidak menghasilkan tetes air yang berukuran sebesar tetes hujan. Perlu diingat bahwa tidak semua awan akan menghasilkan hujan. Awan-awan tertentu saja yang akan menghasilkan hujan seperti nimbostratus, kumulus dan kumulonimbus. Kekeringan kedua yakni kekeringan hidrologi adalah kekeringan yang terjadi akibat gangguan pada siklus hidrologi atau daur air. Dimulai dari penguapan air dari permukaan bumi, pembentukan awan-awan, pembentukan hujan , proses infiltrasi/peresapan air – penguapan – limpasan/run off sampai ke penampungan air seperti sungai, danau, laut dsb kemudian berulang lagi proses di atas. Gangguan pada kedua macam jenis kekeringan tersebut menghasilkan kekeringan ketiga yakni kekeringan pertanian. Akibat tidak adanya hujan dalam kurun waktu yang lama sementara proses penguapan air dari tanah berlangsung terus sehingga terjadi defisit air dalam tanah menyebabkan tanaman di lahan pertanian tidak akan mampu bertahan. Produktivitasnya akan menurun dan bahkan dalam kondisi yang ekstrim menyebabkan tanaman bisa mati. Kondisi ini memicu dampak buruk pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Dapat dengan mudah dibuktikan bahwa pada saat kekeringan terjadi, masyarakat akan mengeluarkan uang lebih untuk mencukupi kebutuhan airnya selain bahwa harga-harga produk pertanian tertentu mengalami peningkatan. Tingkat inflasi akibat kenaikan harga pangan juga akan terpengaruh.
Elemen, kendali dan variasi iklim
Elemen iklim terdiri dari temperatur, tekanan, kelembapan, perawanan, hujan, dan angin. Berbagai faktor fisik dapat menjadi pengontrol/kendali musim. Faktor tersebut adalah radiasi matahari, letak tekanan tinggi semi permanen, topografi, distribusi daratan dan lautan, lintang tempat, jarak bumi – matahari, dan sebagainya. Faktor dari dalam bumi dan luar bumi (astronomi) seperti telah disebut di atas berinteraksi langsung dan tidak langsung pada pembentukan musim di muka bumi. Kombinasi berbagai faktor tersebut yang bekerja pada elemen-elemen iklim akan menghasilkan variasi musim. Gerak semu matahari dari 23,5o LU sampai 23,5oLS sangat mempengaruhi berbagai proses fisis dan dinamis cuaca, musim dan iklim di muka bumi. Istilah cuaca, musim dan iklim lebih banyak dilihat dari panjang waktunya dimana cuaca waktunya singkat, musim waktunya menengah, dan iklim waktunya panjang.
            Sirkulasi udara yang mempengaruhi pembentukan cuaca, musim dan iklim di Indonesia terdapat tiga macam yakni sirkulasi Hadley, Walker dan lokal.  Ketiga pola sirkulasi ini dikendalikan pula oleh kondisi monsoon, ENSO dan Dipole Mode. Ketiga sirkulasi ini berinteraksi sedemikian kompleks dan menghasilkan kondisi musim di Indonesia yang demikian unik yang tidak dijumpai di wilayah lain di muka bumi ini. Interaksi ini juga membentuk jenis curah hujan yang berbeda yakni pola monsoonal, ekuatorial dan lokal atau disebut masing-masing sebagai pola A, B, dan C. Bila curah hujan bulanan digambarkan dalam satu tahun dari bulan Januari sampai dengan Desember menyerupai bentuk huruf U maka pola tersebut disebut sebagai pola monsoonal. Bila menyerupai bentuk M dimana puncak hujan terjadi pada sekitar bulan April dan Oktober maka disebut pola ekuatorial sedangkan bila bentuknya menyerupai huruf U terbalik maka disebut pola lokal. Oleh karena itu maka tidak perlu heran mengapa di daerah X terjadi kekeringan namun di daerah Y mengalami kebanjiran pada waktu yang tidak terpaut jauh. Tipe monsoonal meliputi sebagian Sumatera, seluruh Jawa sampai Nusa Tenggara Timur, selatan Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan Papua bagian tengah. Tipe ekuatorial membentang di sekitar wilayah ekuator dan tipe lokal dijumpai di sebagian kecil Sulawesi, sebagian Maluku dan kepala burung Papua.
             Kondisi atmosfer dan laut saat ini
Variasi musim saat ini bisa dilihat dari  kondisi atmosfer dan suhu permukaan laut di perairan Indonesia dan sekitarnya. Indeks AUSMI (Australian Monsoon Index) menunjukkan nilai negatif sehingga bisa diperkirakan bahwa monsoon Australia sedang berlangsung yang menunjukkan kecil kemungkinan musim hujan terjadi. Bisa dipahami mengingat massa udara dari Australia ini tidak banyak membawa uap air yang mengakibatkan peluang pembentukan perawanan hujan berkurang.
El Nino yang di wilayah kita sering diartikan sebagai atau identik dengan kekeringan nampaknya masih enggan muncul menonjol ke permukaan. Wilayah yang biasanya digunakan sebagai patokan untuk menentukan indeks El Nino adalah wilayah Nino 3.4 yang kurang lebih sempit yang dibatasi dengan 5o LU – 5o LS yang membujur sekitar ekuator di tengah-tengah samudra Pasifik. Anomali suhu permukaan laut per tanggal 18 September 2017 memperlihatkan bahwa wilayah Nino 3.4 berada dalam jangkauan anomali -0,5oC dan 0,5oC yang berarti normal. Perairan Indonesia dan sekitarnya relatif hangat namun terlihat bahwa di bagian Tenggara Indonesia, Utara Australia anomali suhu permukaan lautnya negatif. Ini berarti wilayah yang disebut terakhir ini suhu permukaan lautnya lebih rendah dari biasanya yang berpeluang menghambat pembentukan perawanan konvektif. 
Prediksi ENSO (El Nino and Southern Oscillation) oleh lembaga CPC/IRI  AS sampai dengan bulan April 2018 memperlihatkan bahwa peluang kondisi normal terjadi 5-20% lebih besar dibanding kemungkinan terjadi El Nino. Sementara itu peluang La Nina tertinggi hanya mencapai belasan persen. Ini berarti sebenarnya kondisi mendatang kemungkinan biasa-biasa saja. Secara klimatologis peluang normal dari bulan Juni menurun sampai bulan Desember dan kemudian naik kembali sampai bulan April. Sementara itu peluang El Nino dan La Nina hampir sama yakni menguat dari bulan Juli dan mencapai puncaknya sekitar bulan Januari yang kemudian turun kembali sampai bulan Maret. Kondisi ENSO neutral atau kondisi normal musim di Indonesia ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 antara -0,5oC dan 0,5oC.
Faktor besar ketiga yang penting untuk dipantau keberadaannya adalah suhu permukaan laut di samudra Hindia ekuator bagian barat dan timur yakni pantai timur Afrika dan pantai barat Sumatera Indonesia. Suatu indeks yang dinamakan Indeks Dipole Mode (IODM) digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut. Bila IODM tersebut positif maka berdampak pada wilayah bagian Barat Indonesia yang cenderung kering daripada biasanya. Bila bernilai negatif maka wilayah Indonesia tersebut lebih banyak hujan. Bila bernilai antara -0,4 sampai 0,4 maka berarti normal. Dari prediksi yang dilakukan oleh 6 badan dunia 80% nya menunjukkan nilai IODM yang netral/normal sedangkan dua lainnya yakni badan meteorologi Kanada dan Inggris meramalkan nilai yang positif. Ini berarti bahwa rata-rata badan meteorologi dunia mengatakan bahwa kondisi saat ini adalah normal.
Secara numerik, IRI juga meramal peluang terjadinya presipitasi global. Salah satu bentuk presipitasi adalah curah hujan. Peluang curah hujan yang berlangsung pada bulan September-Oktober-November 2017 untuk wilayah Indonesia dapat disampaikan sebagai berikut. Wilayah Indonesia berpeluang 40-50% hujan di atas normal. Ini berarti bahwa peluang kondisi di bawah normal sampai normal mendekati 50-60%.
Bila semua ramalan di atas benar maka sebenarnya saat ini kondisi musim di Indonesia adalah dalam kondisi batas-batas kisaran normal. Yang menarik adalah mengapa pada saat kondisi “normal” justru saat ini sebagian wilayah mengalami kekeringan?? Bisa dipahami bahwa wilayah-wilayah yang mengalami pola curah hujan monsoon lah yang banyak terdampak oleh kurangnya hujan. Ini mengingat puncak tidak terjadinya hujan berlangsung pada bulan Juni-Juli-Agustus. Pada wilayah-wilayah dengan pola curah hujan ekutorial dan lokal, hal ini tidak menjadi masalah besar karena puncak curah hujan bulanannya berbeda dengan tipe monsoonal. Jadi adalah wajar bahwa masyarakat yang teriak-teriak kekurangan air adalah masyarakat di pulau Jawa, Madura, Nusa Tenggara dan berbagai daerah yang terletak di selatan ekuator. Keseimbangan/neraca air terganggu akibat kurangnya hujan selama beberapa waktu. Penguapan dari tanah yang terus menerus sementara tidak ada asupan hujan menyebabkan tanah menjadi kering, demikian juga sumber-sumber air akan berkurang debitnya. Jenis kekeringan seperti disinggung di atas akan terjadi.
             Alternatif solusi     
Sejumlah langkah bisa dilakukan untuk mengatasi kekeringan ini, baik yang sifatnya mitigasi maupun adaptasi. Iklim yang selalu bervariasi dan berubah akibat faktor alam maupun manusia harus di rem lajunya agar tidak sampai berpengaruh buruk pada manusia. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan saudara kandung yang saling terkait. Langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim ini dapat dijumpai di jutaan website, dari sifatnya yang individual sampai level kebijakan pemerintah suatu negara. Kerjasama internasional dibutuhkan untuk maksud tersebut.
Mengingat jumlah air di bumi tetap namun mungkin berubah-ubah wilayahnya dimana mungkin sebelumnya wilayahnya kurang hujan/kering namun sekarang menjadi banyak hujan/basah atau sebaliknya. Kerusakan lingkungan yang memicu terganggunya siklus air harus diperbaiki. Ini bisa tataran lokal sampai global. Dalam jangka pendek gerakan hemat air harus disosialisasikan. Wilayah pabrik atau pemukiman yang biasa hambur air agar dipaksa untuk berhemat air. Kepedulian sosial harus dibudidayakan. Instansi terkait melakukan manajemen air yang lebih baik agar surplus dan defisit air bisa dikendalikan. Ketika musim hujan, air disimpan dan pada saat musim kemarau dihemat. Dalam jangka panjang harus mendidik masyarakat untuk mencintai lingkungannya karena sekecil apapun yang manusia lakukan, dalam jangka panjang bisa ada imbasnya ke diri manusia di tempat dia atau di lain tempat di muka bumi.
Tidak lupa juga agar masyarakat mendapatkan informasi yang baik terhadap kemungkinan gangguan cuaca, musim, dan iklim yang ekstrim maka early warning system harus dibangun. Salah satunya melalui peningkatan kemampuan prediksi yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga seperti PT (misal ITB), LAPAN, BMKG, dan lembaga penelitian negeri dan swasta.  Alam mempunyai mekanisme sendiri yang sifatnya random dan sulit untuk diprediksi dengan model numerik secanggih apapun. Model numerik saat ini ditambah dengan analisis baru mampu memprediksi dengan ketepatan 80% untuk wilayah kita (klaim BMKG). Itu adalah rata-rata kasar untuk wilayah kita; tentu ada ketepatan prediksinya yang lebih tinggi dan adapula yang lebih rendah. Dengan teknik downscaling, penggunaan model global juga belum mampu menjawab dengan sangat memuaskan keinginan untuk mendapatkan peramalan presisi.  Selalu ada fuzzy dalam fakta tersebut. Teori dan observasi juga belum mampu menghasilkan model peramalan cuaca, musim dan iklim yang presisi 100%. Berbagai teknologi canggih sudah, sedang dan akan terus digunakan dalam memahami perilaku alam. Teknologi penginderaan jarak jauh makin pesat perkembangannya dan mampu mengcover bumi 24 jam sehari. Dengan demikian makin banyak data dan informasi bisa dihasilkan darinya sehingga makin meningkatkan mutu model prediksi dan memperbaiki teori yang sudah ada.

Friday, September 15, 2017

Melek cuaca dan iklim Indonesia bagi generasi muda

Beberapa waktu ini memang kondisi cuaca dan musim agak berbeda dengan biasanya. Kondisi ini perlu dipahamkan kepada masyarakat agar masyarakat melek tentang cuaca dan iklim di wilayah kita. Generasi muda merupakan segmen masyarakat yang diharapkan bisa membawa angin perubahan di masa mendatang.Wilayah Timur Indonesia apalagi Papua mempunyai karakteristik cuaca, musim dan iklim (cusiklim) yang unik sehingga pemahaman masyarakat harus ditingkatkan. Hal ini juga berarti bahwa pembangunan infrastruktur terkait cusiklim ini juga harus banyak dibangun di sana. Bandara di Papua yang berjumlah 220 buah harus diberdayakan agar mampu mengangkat harkat hidup dan kesejahteraan masyarakat wilayah NKRI tsb karena transportasi udara merupakan salah satu sektor paling penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari. Pembangunan radar, stasiun bumi untuk satelit, automatic weather station, dan berbagai sarana IT harus terus menerus dipacu dan dipercepat agar masyarakat Papua merasakan benar-benar sebagai WNI yang mempunyai hak yang sama dengan WNI di tempat lain khususnya di Jawa. Perasaan sebagai WNI yang dianaktirikan seperti yang selama ini dikeluhkan, semoga sedikit demi sedikit terkikis bila pembangunan di Papua berhasil dan dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat di sana. Tak lupa juga kualitas SDM harus terus menerus ditingkatkan agar tidak terpaut jauh dengan saudara-saudaranya di pulau Jawa.
Berikut ini adalah foto-foto kegiatan ceramah interaktif tentang cusiklim untuk generasi muda yang dilaksanakan di Bandung untuk menumbuhkan kecintaan dan perhatian terhadap cusiklim dimana bisa dimanfaatkan untuk tujuan penerbangan dll.


Peran cuaca dan musim pada dunia penerbangan sebagian sudah ditulis pada website ini. Nantikan tulisan berikutnya ya. Salam hangat penuh semangat.


Tuesday, May 16, 2017

Pelatihan tanggap bencana 11-12 Juli 2017

Masyarakat makin rentan dan berisiko terhadap bencana alam sehingga membutuhkan uluran tangan kita untuk meningkatkan ketangguhan mereka dalam menghadapi bencana. Untuk itu, memenuhi harapan dan permintaan masyarakat akan pelatihan semacam itu, kami akan melaksanakan "Pelatihan Tanggap bencana banjir, longsor, dan kekeringan" pada 11-12 Juli 2017 di kampus ITB jl. Ganesha 10 Bandung Jawa Barat. Mari kita share pengalaman akan berbagai peristiwa bencana tersebut. Barangkali anda tertarik?? Ditunggu kontribusinya pada pelatihan tersebut.



Friday, January 27, 2017

Buku Anomali cuaca dan iklim Indonesia

Sidang pembaca yang budiman, awal Pebruari 2017 ini saya meluncurkan buku "Anomali cuaca dan iklim Indonesia" yang merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan saya dalam blog-blog yang saya miliki. Nanti bisa Anda beli di toko-toko buku atau bisa dibeli di Penerbit ITB jl. Ganesha 10 Bandung tlp. (022) 2504257 atau fax. (022) 2534155 email: itbpress@penerbit.itb.ac.id
Kritikan dan saran bisa dikirimkan via: joko.wiratmo@meteo.itb.ac.id

Tuesday, December 20, 2016

Lagi-lagi kecelakaan pesawat di Papua

Beberapa hari yang lalu, terjadi lagi kecelakaan pesawat di Papua yang menewaskan seluruh awak pesawat dan penumpangnya yang berjumlah 12 orang. Kecelakaan pesawat Hercules tersebut, menurut pernyataan dari TNI AU, diakibatkan oleh pengaruh cuaca. Pesawat tersebut membawa semen yang akan didrop di daerah Wamena sesuai permintaan dari Pemerintah Daerah setempat. Sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya bahwa penerbangan di wilayah Papua memang sangat rawan, pertama karena masalah cuaca yang dengan sangat cepat berganti dan yang kedua akibat sarana dan prasarana bandara yang sangat minim. Jadi tidak heran bila kecelakaan pesawat bisa saja masih akan terjadi di kawasan ini. Pemerintah sudah selayaknya untuk makin memperhatikan masalah transportasi udara ini mengingat sampai dengan saat ini, inilah satu-satunya moda transportasi yang paling efisien dalam menjangkau wilayah-wilayah (khususnya) di pedalaman Papua. Moda transportasi darat dan laut sudah selayaknya untuk dipercepat pembangunannya.

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38355629

Dengan makin murahnya bahan bakar yang dijual oleh pemerintah maka diharapkan moda transportasi darat akan makin berkembang. Kereta api yang selama ini hanya dibangun di Jawa dan Sumatera sudah harus disosialisasikan untuk wilayah lainnya. Banyak negara Eropa yang berpegunungan menggunakan moda transportasi kereta api untuk menjangkau berbagai wilayahnya. Biarlah masyarakat Papua bisa menghayati sebagai bagian dari NKRI, tidak hanya dikeruk sumber daya alamnya untuk pembangunan di wilayah lainnya. Pembangunan sumber daya manusia harus makin dipercepat di kawasan ini agar mereka bisa bahu membahu mengolah kekayaan alamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Hidup Papua, hidup NKRI!

Saturday, November 26, 2016

Bagaimana penerbangan dalam satu minggu ke depan??

Anda-anda yang sering menjalani penerbangan ke berbagai tempat di tanah air hendaknya waspada dalam beberapa hari ke depan. Coba perhatikan citra satelit Himawari berikut ini.
http://weather.is.kochi-u.ac.jp/SE/00Latest.jpg

Tampak bahwa di banyak tempat di tanah air terselimuti oleh awan tebal sehingga diperkirakan bila Anda bepergian menuju berbagai tempat akan mengalami gangguan. Gangguan bisa berwujud goncangan ringan sampai pada turbulensi. Hanya wilayah Asia Tenggara yang berada di daratan Asia relatif bebas dari awan-awan dan turbulensi. Ruang udara di atas wilayah Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Laos relatif bebas dari awan-awan besar. Jadi bila anda berkunjung ke negara-negara tersebut maka selama penerbangan bisa tidur dengan nyaman. 
Kecepatan angin di ketinggian 3000 feet dari permukaan menunjukkan angka 10 sampai 20 knots atau kira-kira 5 sampai 10 meter per detik, suatu angka yang tidak begitu besar. Sebagian wilayah Indonesia mengalami angin Timur, Barat daya, dan Barat laut bergantung dimana lokasinya. Variasi arah angin dominan ini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti pergerakan semu matahari, meningkatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia dan sekitarnya, La Nina di samudra Pasifik ekuator, dan Dipole mode negatif. Kompleksnya keterkaitan antara komponen-komponen tersebut membawa dampak musim yang kita rasakan saat ini. 
Semoga dalam seminggu ke depan, penerbangan yang Anda rasakan bisa lebih menyenangkan meskipun peluang tentang hal tersebut kecil mengingat interaksi berbagai faktor di atas. Yang tetap harus pula diperhatikan adalah keberadaan badai tropis yang berkembang menjadi topan Takoge di lepas pantai barat Philippina. Jadi tetaplah berhati-hati dan usahakan terbang pada pagi hari.

Sunday, September 11, 2016

Bagaimana memilih waktu yang tepat untuk terbang??

Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak memahami bagaimana memilih waktu yang tepat untuk bepergian menggunakan pesawat terbang. Biasanya mereka memilih penerbangan pada siang hari. Jarang di antara mereka yang memperhatikan masalah cuaca dan musim yang terjadi pada waktu penerbangan tersebut. Penerbangan pada siang hari dipilih karena memang aktivitas manusia umumnya dilaksanakan pada siang hari, jadwal penerbangan dalam negeri juga umumnya padat pada siang hari. Pemilihan penerbangan pada malam hari umumnya karena terpaksa akibat maskapai penerbangan menyediakan sarana angkutannya pada malam hari. Selain itu juga karena ada pertimbangan bahwa waktu sampai di tempat tujuan adalah saat pagi hari atau pada saat aktivitas manusia sedang menggeliat. Seperti halnya bila kita naik bus malam dimana diharapkan lalu lintas tidak padat, saat perjalanan kita bisa istirahat dengan tenang, dan tahu-tahu pagi hari sudah sampai di tempat tujuan. Hal tersebut wajar dan manusiawi sekali. Mengingat bahwa cuaca dan musim sangat menentukan bagi keselamatan penerbangan maka sudah sewajarnya bila masyarakat luas disadarkan dan dicerdaskan dalam memilih jadwal penerbangan. Maskapai penerbangan tentu sudah memperhitungkan betul masalah ini sehingga masyarakat juga tidak perlu terlalu khawatir. Tetapi tidak ada salahnya jika kita jeli dalam memilih waktu. Pada saat-saat banyak aktivitas konvektif di suatu wilayah atau kawasan maka sebaiknya dihindari. Penerbangan pada siang hari lebih rawan kecelakaan akibat cuaca dibanding pada pagi atau malam hari. Pada kedua waktu tersebut, aktivitas konvektif tidak kuat (melemah) sehingga penerbangan menjadi lebih nyaman, tidak ada goncangan berarti. Berbeda halnya bila penerbangan pada siang hari yang biasanya banyak perawanan dan turbulensi sehingga sering penerbangan kita tidak nyaman akibat banyak guncangan. Pada musim hujan, banyak ruang udara yang terselimuti awan-awan konvektif, sedangkan bila kemarau tidak demikian halnya. Oleh karena itu sebaiknya bila akan bepergian ke suatu tempat, rajin-rajinlah membaca ramalan cuaca. Pilihlah waktu yang tepat agar penerbangan anda menyenangkan.

Thursday, June 9, 2016

Berikan analisa kalian terhadap data kecelakaan pesawat berikut ini

Tentu kalian paham bahwa dunia penerbangan rawan akan kecelakaan pesawat terbang? Mengapa demikian? Coba kalian analisis data kecelakaan berikut ini.


http://flightsafety.org/aerosafety-world-magazine/mar-2013/recovery-program

Friday, January 22, 2016

Masukan para traveller ...ditunggu ya

Kalian yang suka jalan-jalan (traveller) baik perjalanan dalam negeri, luar negeri (ASEAN atau bahkan luar wilayah tropis) ditunggu ceritanya terkait perjalanan yang kalian alami ya. Pasti kalian merasakan bagaimana enak dan tidak enaknya naik pesawat terbang. Ceritakan ya kapan dilakukannya dan kemana; pagi/siang/sore/malam/dini hari. Kalaupun tidak ingat tanggalnya, moga-moga masih ingat bulannya. Ditunggu di : joko.wiratmo@meteo.itb.ac.id  Entar ku publish di blog ini bila cerita kalian menarik. Salam hangat penuh semangat.

Tuesday, August 18, 2015

Penerbangan di Papua rawan kecelakaan akibat cuaca

Salah satu kado ulang tahun NKRI yang ke-70 kali ini sangat tidak mengenakkan. Satu lagi kecelakaan pesawat terbang terjadi dan menimpa salah satu maskapai yakni Trigana Air di daratan Papua. Penerbangan yang mengambil rute Jayapura - Oksibil ini jatuh dan sampai hari ini diberitakan bahwa 54 orang awak pesawat dan penumpangnya tewas karena tidak diketemukan tanda-tanda kehidupan. Pesawat merupakan alat transportasi yang sangat vital di Papua karena sedikit jalan darat yang menghubungkan antara kota atau wilayah satu dengan kota atau wilayah yang lain. Transportasi udara merupakan angkutan yang sangat praktis dan cepat dalam mendistribusikan segala sesuatu, termasuk barang-barang kebutuhan hidup masyarakat. Tanpa pesawat terbang, hampir mustahil untuk pergerakan orang dan bahan bisa dilaksanakan mengingat medan yang sangat berat, bergunung-gunung dan berhutan belantara.

Di sisi lain, cuaca - musim - iklim (cusiklim) di wilayah tersebut sangat dinamis. Pegunungan yang menjulang tinggi sangat berpengaruh pada cusiklim di Papua. Kita tahu bahwa pembentukan perawanan orografis sangat terdukung dengan adanya topografi yang kuat. Di lain pihak pola monsoon banyak berinteraksi dengan pola lokal tersebut sehingga menghasilkan pola cuaca, musim dan iklim yang unik dan tidak statis. Sayangnya sarana dan prasarana yang mendukung untuk dunia penerbangan masih sangat minim dan mungkin malah tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh ICAO (organisasi penerbangan sipil internasional). Hanya karena "terpaksa" maka betapapun berbahayanya terbang dengan pesawat yang tidak diberikan informasi cuaca yang memadai, penerbangan pun dilaksanakan. Para calon penumpang tidak punya pilihan lain karena memang sampai saat ini belum ada moda transportasi yang bisa mengalahkan pesawat terbang. Biaya transportasi yang mahal sehingga mendorong harga-harga mahal terpaksa mereka bayar.
Oleh sebab itu, ke depan, sudah seharusnya pemerintah mendukung dan berempati dengan masyarakat Papua karena kekayaan alam Papua pun banyak dirasakan oleh masyarakat pulau lain di NKRI. Kekayaan alam Papua harus juga digunakan untuk sebesar-besar kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Papua. Sarana dan prasarana untuk tujuan penerbangan sudah sewajarnya diperbaiki dan direvitalisasi.

Friday, August 14, 2015

Patroli udara untuk keamanan maritim kita

Beberapa waktu ini, Mentri Susi Pujiastuti telah menunjukkan taringnya dalam menangani pencurian ikan di perairan maritim kita. Meskipun belum benar-benar menghapuskan pencurian ikan di wilayah kita namun setidaknya membuat ketar-ketir para nelayan dan pengusaha asing yang selama ini menjarah ikan di nusantara. Betapa tidak, perahu-perahu para pencuri ikan tersebut bila tertangkap berisiko untuk ditenggelamkan. Trilyunan rupiah per tahun kekayaan laut kita selama ini dijarah oleh kapal-kapal asing yang seringkali menggunakan tenaga kerja masyarakat kita yang awam dan menggunakan bendera merah putih. Ironis sekali, kekayaan laut kita justru dijarah dengan memperalat tenaga kerja Indonesia yang dibayar murah. Bahkan pernah salah satu kapten kapal asing mengatakan bahwa tenaga kerja kita hanya layak untuk jadi jongos atau pembantu di kapal-kapal asing dan tidak pantas untuk  menjadi kapten kapal. Ucapan yang sangat merendahkan martabat bangsa Indonesia. Orang yang mengatakan semacam itu memang harus disumbat mulutnya.
Wilayah-wilayah upwelling yang kaya ikan sebenarnya bisa diperkirakan dari arah angin yang bertiup menuju pantai. Wilayah-wilayah inilah yang diburu oleh para kapten kapal asing yang sudah berpengalaman dan berpengetahuan meteorologi dan oseanografi yang baik. Dari berita-berita sinoptik yang mereka peroleh baik dari stasiun maritim terdekat maupun dari saluran-saluran berita cuaca dapat digunakan untuk tujuan menentukan daerah upwelling tersebut. Oleh karena itu maka wajarlah bahwa kapal-kapal asing yang berkeliaran di wilayah kita-pun bisa kita perkirakan keberadaannya dari berita-berita tersebut. Dibutuhkan ahli meteorologi dan oseanografi serta perikanan untuk menganalisis semua berita tersebut sehingga bisa dimanfaatkan oleh aparat keamanan (mungkin di bawah Badan Koordinasi Keamanan Laut / BAKAMLA atau TNI) untuk menangkap kapal-kapal asing tersebut.
Selama ini patroli keamanan laut lebih sering dilakukan dengan kapal laut dibanding dengan pesawat udara dan drone. Kapal-kapal asing yang sering jauh lebih canggih daripada kemampuan teknologi pengamanan maritim kita menyebabkan kapal-kapal tersebut sering lolos dari penangkapan. Sudah selayaknya perbaikan teknologi pengamanan laut kita ditingkatkan. Dan, yang perlu terus diupayakan adalah peningkatan pemahaman tentang kondisi meteorologis wilayah kita yang demikian unik. Kita semua tahu bahwa kondisi cuaca dan iklim sangat berperan dalam menentukan keberhasilan pengamanan wilayah laut kita.  Cuaca yang buruk sangat mengganggu pada penerbangan pesawat dan drone sehingga tidak dapat beroperasi optimal. Cuaca buruk juga akan menyebabkan gelombang besar sehingga menghalangi kapal patroli kita untuk beroperasi. Pemahaman inilah yang harus dimiliki oleh para pemegang kekuasaan dalam mengamankan kawasan maritim nusantara.

Monday, July 13, 2015

Dampak letusan gunung Raung pada dunia penerbangan

Lebih dari dua minggu terakhir ini gunung Raung yang terletak di perbatasan Banyuwangi, Jember dan Bondowoso muntah-muntah. Aktivitas tersebut menyebabkan banyak permasalahan seperti pada kesehatan manusia dan aktivitas manusia sehari-hari. Mengingat bahwa debu gunung tersebut mengandung silika maka bisa menyebabkan iritasi baik pada mata maupun saluran pernapasan. Debu juga mengganggu jarak pandang sehingga berpotensi timbul kecelakaan lalu lintas bila cukup tebal. Pada dunia penerbangan aktivitas gunung ini menyebabkan beberapa bandara di sekitarnya ditutup untuk penerbangan. Tercatat bandara Blimbingsari di Banyuwangi, bandara Notohadinegoro di Jember, bandara Ngurah Rai di Bali, dan bandara Selaparang di Lombok berhenti beroperasi karena terpengaruh oleh aktivitas vulkanik gunung Raung.
Pada pesawat, debu dan asap vulkanik bisa menyebabkan kerusakan pada mesin sehingga mengurangi daya dorong dan angkat pesawat seperti bisa anda baca  website berikut. Yang menarik dari sisi meteorologi adalah tentang pengaruh angin pada penyebaran abu letusan gunung. Kita mengenal bahwa debu akan disebarkan sesuai dengan arah angin. Pada saat ini angin tenggara mulai menyapu wilayah Indonesia. Namun harus diingat pula bahwa profil angin vertikal belum tentu setiap lapisan/ketinggian mempunyai arah angin yang sama meskipun secara keseluruhan angin tenggara yang dominan. Oleh karena itu wajar jika penyebarannya tidak hanya mengarah ke barat laut gunung Raung. Debu tersebar juga pada arah timur dan barat dari gunung tersebut. Meskipun berbeda dengan letusan gunung Merapi di Jawa Tengah namun dampak yang dirasakan bagi dunia penerbangan memang tidak boleh diremehkan begitu saja. Informasi cuaca yang terus diupdate setiap waktu akan sangat membantu operator dan otoritas penerbangan dalam menentukan waktu yang tepat untuk penerbangan melalui sekitar gunung Raung atau buka tutup bandara di sekitar gunung tersebut yang terkena dampak abu vulkaniknya. Tidak berlebihan kiranya bila kita mengacungkan jempol kepada pihak BMKG atas berbagai informasi cuaca yang disampaikan kepada semua pihak, termasuk di dalamnya masyarakat luas khususnya dalam menanggapi kejadian letusan gunung.